KUALITAS DAGING BEKU

Perkembangan teknologi pasca panen yang cukup pesat dalam kurun waktu yang relatif singkat telah memberikan keuntungan baik bagi produsen maupun konsumen daging sapi di Indonesia. Salah satu teknologi tersebut adalah aplikasi teknologi pengemasan dengan mempergunakan kantong plastik hampa udara (vacuum pack). Akan tetapi konsumen daging terutama di pasar tradisional belum sepenuhnya mengenal manfaat teknologi pengemasan daging sapi dengan kantong plastik hampa udara. Disamping itu karena adanya perubahan karakteristik yang spesifik dari daging yang dikemas dalam kantong hampa udara, diperlukan suatu penjelasan secara rinci sehingga tidak terjadi salah pengertian diantara konsumen, pedagang atau produsen. Kemasan dengan mempergunakan kantong plastik hampa udara merupakan suatu upaya untuk mencegah terjadinya kontaminasi bakteri, memperpanjang umur penyimpanan daging dan merupakan kesempatan untuk terjadinya proses pengempukan (ageing) yang lebih efektif.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses pengemasan daging dengan hampa udara diantaranya kebersihan dan sanitasi, suhu selama proses pendinginan dan penyimpanan. Daging yang berwarna kegelapan atau dengan tingkat keasaman (pH) tinggi sebaiknya tidak dikemas dengan kantong hampa udara. Selain itu pemilihan kantong plastik hampa udara dan kotak karton, proses penghampaan udara dan perekatan dari setiap kantong juga memegang peranan penting. Pengemasan daging dalam kantong plastik hampa udara merupakan suatu metode untuk mengontrol pertumbuhan bakteri daging. Dengan kontrol terhadap kebersihan, pengemasan, suhu daging, dan suhu ruang penyimpanan, maka umur penyimpanan daging dapat diperpanjang dari satu minggu sampai beberapa minggu.

Hal yang sangat penting untuk diperhatikan baik oleh konsumen maupun pedagang eceran adalah untuk menyadari bahwa kondisi dan penampilan daging sapi yang dikemas dalam kantong plastik hampa udara akan terlihat berbeda dengan daging segar dalam kondisi biasa. Suatu informasi yang membahas mengenai karakteristik daging sapi yang dikemas dengan kantong plastik hampa udara diharapkan dapat menambah pengetahuan pasca panen daging.

Ä  PENAMPILAN DAGING SAPI YANG DIKEMAS DALAM KANTONG PLASTIK HAMPA UDARA

  1. 1. Penampilan Warna Daging yang Dikemas dalam  Kantong Hampa Udara

Secara umum perhatian setiap konsumen dalam membeli daging sapi segar adalah bahwa warna dari daging identik dengan kualitas. Proses penghampaan udara dengan mempergunakan mesin hampa udara bertujuan untuk mengeluarkan sebagian besar udara (oksigen) yang bersinggungan dengan permukaan daging. Akibat tidak adanya udara maka warna daging segar berubah menjadi merah keunguan. Warna merah pada daging disebabkan oleh adanya suatu pigmen yang disebut myoglobin yang apabila kontak dengan udara akan menyerap oksigen dan menghasilkan warna daging merah cerah yang diharapkan oleh konsumen. Akan tetapi bila kontak antara daging dengan udara terjadi dalam waktu yang cukup lama maka terjadi perubahan warna menjadi merah kecoklatan yang disebut metmyoglobin. Tingkatan perubahan warna pigmen dari bentuk yang satu kebentuk yang lainnya sangat tergantung pada suhu, derajat keasaman (pH), konsumsi oksigen dan kontaminasi bakteri (BENDALL and TAYLOR, 1972 and LAWRIE, 1974). Selain itu stabilitas warna daging serta potensi oksidasi dan reduksi oksigen sangat berhubungan secara erat dengan tipe potongan daging (RENERRE and LABAS, 1987). Perubahan warna tersebut bersifat normal dan seharusnya terjadi pada daging sapi yang dikemas dalam kantong plastik hampa udara.

Setelah disimpan dalam ruang pendingin dan ketika kantong plastik ,hampa udara dibuka, maka permukaan daging kontak langsung dengan oksigen luar dan dalam waktu kurang lebih 15 menit terjadi perubahan warna daging menjadi merah cerah seperti sebelum dikemas. Umur penyimpanan daging dalam kantong hampa udara umumnya dibatasi oleh adanya perubahan warna  daging dari merah kecoklatan atau kehijauan. Perubahan warna kecoklatan pada daging yang dikemas dalam kantong hampa udara disebabkan oleh beberapa hal diantaranya adalah kelebihan oksigen dalam kantong plastik setelah proses pengemasan, proses perekatan yang tidak sempurna atau adanya lubang kecil (pori-pori) pada kantong plastik sehingga udara luar masuk kedalam kantong plastik selama penyimpanan. Apabila daging tidak dalam keadaan segar pada saat dimasukkan kedalam kantong plastik, maka terjadi percepatan proses perubahan warna menjadi kecoklatan yang selanjutnya diikuti pembusukan daging.

  1. 2. Aroma dan Bau Daging dalam Kantong Plastik Hampa Udara

Aroma daging sapi dalam kantong plastik hampa udara berubah terutama disebabkan oleh adanya byproduct dari hasil pertumbuhan mikrobiologi dalam daging. Aroma daging tersebut merupakan salah satu karakteristik daging yang dikemas dalam kantong plastik hampa udara. Hasil penelitian di Meat Research Laboratory CSIRO, menunjukkan bahwa aroma daging yang disimpan (ageing) dan dapat diterima konsumen adalah daging yang disimpan pada suhu 0°C sampai waktu penyimpanan maksimum lima minggu setelah proses pengepakan (Personal communication). Oleh karena demikian maka satu hal yang perlu diperhatikan oleh pengguna akhir adalah melihat tanggal produksi dan waktu selama proses ageing. Salah satu faktor yang juga harus mendapat perhatian adalah bau daging yang dikemas dalam kantong plastik hampa udara. Bau asam seperti keju atau bau air susu pada saat kantong plastik dibuka adalah bau yang spesifik dan normal yang disebabkan oleh terbentuknya gas oleh daging dan bakteri. Bau spesifik ini akan hilang setelah kantong plastik dibuka dan dibiarkan selama lebih kurang 30 menit untuk menghilangkan bau tersebut (SPOONCER, 1988). Secara sepintas bau spesifik ini adalah tidak sedap, akan tetapi bau inilah yang sebenarnya normal dan menunjukkan proses ageing berjalan secara baik. Apabila saat kantong plastik dibuka dan tercium bau tengik dan berlendir, maka hal ini patut dicurigai karena kemungkinan terjadinya kontaminasi bakteri akibat kantong bocor atau proses penghampaan udara yang tidak berjalan secara baik.

  1. 3. Cairan Darah dalam Kantong Hampa Udara

Cairan darah dari daging yang dikemas dalam kantong plastik hampa udara selama proses penyimpanan disebut “weep”. Jumlah weep masih dianggap wajar adalah berkisar 1-2 persen, dan apabila melebihi empat persen sudah dianggap berlebihan (Personal communication). Perlu diketahui bahwa daging segar mempunyai kandungan air sebanyak 70 persen dan salah satu masalah yang mendasar dari teknologi daging saat ini adalah bagaimana mencegah penyusutan akibat keluarnya cairan daging yang berlebihan. Pengeluaran cairan darah dalam kantong plastik hampa udara merupakan salah satu kriteria dan karakteristik yang harus diperhatikan oleh produser, karena kandungan cairan darah yang sedikit merupakan harapan produser maupun pembeli. Jumlah cairan. darah dalam kantong plastik hampa udara bertambah dengan bertambahnya waktu penyimpanan. Beberapa faktor yang harus diperhatikan baik oleh produser, pedagang pengecer maupun pembeli adalah sebagai berikut:

a)    Untuk mengurangi jumlah cairan darah maka karkas yang masih panas harus didinginkan secepat mungkin setelah pemotongan dan suhu karkas harus mencapai 30°C dalam waktu singkat. Walaupun suhu karkas mencapai 7°C atau 17°C pada saat perontokan daging (deboning), tetapi satu hal yang sangat penting diperhatikan adalah daging yang sudah dipotong segera dikemas dalam kantong plastik hampa udara dan dimasukkan kedalam ruang pendingin.

b)  Selama penyimpanan dan transportasi, fluktuasi suhu daging harus dihindari dan pembekuan permukaan daging harus dicegah sedini mungkin. Penyimpanan daging dalam suhu rendah yaitu 0 sampai –0,5°C masih dimungkinkan karena daging baru mencapai titik beku pada suhu –1,5°C.

c)   Cara pemotongan juga mempunyai pengaruh terhadap jumlah cairan daging karena semakin besar permukaan pemotongan daging maka makin tinggi jumlah cairan daging yang keluar. Oleh karena itu sebaiknya potongan daging tetap dibungkus oleh lapisan kulit ari serta lapisan lemak.

d)  Penggunaan kantong plastik hampa udara juga berfungsi sebagai kulit kedua yang dengan pencelupan pada air panas selama beberapa detik menyebabkan proses pengkerutan kantong secara sempurna sehingga dapat mengurangi pengeluaran cairan darah dari daging.

e)   Penanganan daging setelah dikemas harus diperhatikan disamping fluktuasi suhu ruangan yang dihindari.

f)   Penumpukan daging menyebabkan adanya tekanan pada kantong dan pada akhirnya dapat mengeluarkan cairan daging. Selain itu karton tidak diisi secara berlebihan dan penanganannya harus secara hati-hati.

  1. 4. Kesalahan dalam Proses Penghampaan Udara

Kejadian mengendornya kantong plastik hampa udara setelah disimpan dalam ruang pendingin menunjukkan adanya kesalahan dalam proses penghampaan udara. Kebanyakan kegagalan kemasan terjadi akibat proses perekatan tidak sempurna, kantong bocor, atau kantong dalam keadaan rusak. Kegagalan kemasan ditunjukkan oleh makin pendeknya umur penyimpanan sebab makin tinggi kandungan udara dalam kantong menyebabkan perubahan warna daging yang semakin cepat seperti kehijauan dan mengeluarkan gas dan kantong menggembung. Kemasan daging dengan tulang merupakan suatu hal yang paling sensitif untuk terjadinya kesalahan/ kegagalan pengemasan. Penanganan daging dalam kantong plastik hampa udara secara kasar seperti dijatuhkan, dilempar, ditumpuk dan ditekan dapat menyebabkan tidak hanya produksi cairan daging yang berlebihan akan tetapi juga kerusakan fisik kantong plastik tersebut sehingga mempengaruhi penampilan daging yang kurang bagus dan umur penyimpanan yang relatif pendek.

  1. 5. Keempukan Daging Setelah Proses Pendinginan

Suatu pilihan yang diterima secara luas oleh masyarakat bahwa daging yang melalui proses pendinginan lebih baik kualitasnya dibandingkan dengan daging beku. Hal ini merupakan suatu peluang bagi produser atau importir untuk memanfaatkan segala teknologi pasca panen agar dapat menyediakan daging sapi yang sudah dilayukan dengan kualitas yang prima. Daging berada dalam keadaan kenyal pada saat terjadinya proses rigormortis, dan setelah proses ini selesai maka daging secara perlahan mengalami perubahan menjadi empuk terutama setelah enzim yang berada dalam otot yang memecah dan melemahkan jaringan protein dalam daging segar. Proses ageing tidak sepenuhnya mengubah kualitas daging dari daging alot menjadi daging empuk karena hal ini tergantung sepenuhnya pada komposisi jaringan otot pada setiap potongan daging seperti misalnya potongan daging tanjung (rump) yang memberikan respon keempukan yang lebih baik sebagai akibat proses ageing dibandingkan dengan daging sampil atau chuck (SEMAN et al., 1988).

Begitu juga halnya dengan daging dari sapi tua dengan gigi seri tetap lebih dari enam atau berumur lebih dari empat tahun memperlihatkan respon keempukan yang negatif dibandingkan sapi yang muda (SPOONCER, 1988). Daging mengalami proses ageing secara sempurna baik dikemas dalam kantong hampa udara maupun yang hanya dibungkus dengan kantong plastik biasa. Akan tetapi daging yang dikemas bukan dengan kantong hampa udara, mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk terjadinya penyusutan berat akibat penguapan cairan daging yang berlebihan.

6.  Umur Penyimpanan Daging Setelah Dikemas dalam Kantong Hampa Udara

Sangat sulit sebenarnya menentukan umur penyimpanan yang lebih spesifik karena setiap orang mempunyai pemikiran yang berbeda terhadap umur penyimpanan daging dan kapan sepotong daging tidak boleh dikonsumsi. Berdasarkan persyaratan dari kesehatan masyarakat untuk daging yang didinginkan (chilled beef) maka daging baru aman untuk dikonsumsi setiap saat setelah daging tersebut dikemas dengan baik, dan disimpan pada suhu dibawah 7°C dimana bakteri beracun tidak bisa tumbuh dengan baik pada suhu tersebut. Umur penyimpanan daging biasanya dibatasi oleh adanya perubahan warna pada daging dan juga adanya bau yang menyengat. Kondisi proses produksi yang baik dan suhu ruang penyimpanan 0°C, maka umur penyimpanan daging dapat bertahan sampai 26 hari. Sementara itu umur penyimpanan bisa mencapai 14 hari dan 10 hari apabila suhu ruang penyimpanan masing-masing mencapai 5 dan 7°C.

Adanya perbedaan dalam umur penyimpanan daging dikemas dalam kantong plastik hampa udara disebabkan oleh suhu ruang penyimpanan yang relatif tinggi sehingga merangsang pertumbuhan bakteri secara cepat, proses hygiene dan sanitasi yang tidak sempurna pada saat proses produksi berlangsung, masuknya udara luar kedalam kantong plastik akibat kebocoran dan perekatan yang tidak sempurna. Selain itu tingkat keasaman (pH) dari masing-masing potongan daging mempunyai juga pengaruh terhadap umur penyimpanan. Daging dengan tingkat keasaman normal (pH<5,8) dapat disimpan selama kurang lebih 10 minggu pada suhu 0°C, sedangkan daging denganpH>5,8 hanya dapat disimpan sampai umur 6 minggu (PATTERSON and GIBBS, 1977 dalam GILL andPENNEY, 1988). Penggunaan kantong plastik hampa udara dapat dilaksanakan terhadap semua daging sapi baik yang diproduksi atau dibeli dari pasar tradisional dengan umur penyimpanan yang sama seperti daging sapi eximpor, sepanjang proses pemotongan dan perontokan daging dilakukan dengan memenuhi persyaratan kebersihan dan sanitasi yang baik serta memperhatikan harga kantong plastik hampa udara yang sampai saat ini masih diimpor.

Sumber : Balai Penelitian Ternak

Advertisements

KORELASI PEARSON DAN PERSAMAAN REGRESI LINEAR

Ä  Langkah-Langkah dalam Uji Korelasi Pearson

Langkah-langkah dalam pembuatan korelasi Pearson yaitu masuk keMINITAB. Setelah terlihat  worksheet MINITAB, maka pada C1 masukkan data kelas lama penggunaan mesin (faktor), pada C2 masukkan data lama penggunaan mesin produksi (jam), dan pada C3 masukkan data kuantitas hasil produksi (ton). Langkah selanjutnya yang harus dilakukan setelah praktikan selesai menginput data kelas, lama, dan produksi adalah pilih Stat>Basic Statistics>Correlations. Kemudian Variables, sorot C2, C3, klik select maka di variables akan muncul C2 C3. Klik di kotak Display p-value sampai tertera tanda √, kemudian klik OK. Setelah itu, pada session perhatikan hasil nilai korelasi Pearson, berikut nilai p-value nya. Setelah mendapatkan hasil korelasi, simpulkan hasil korelasi yang diperoleh. Simpan hasil olahan di minitab. File save session window as>nama file. Buka file tersebut di program Microsoft Word, klik File>Open. Cari file.

Tabel 1. Keunggulan Mesin Pellet Pakan Ternak pada Berbagai Pengoperasian.

Kelas lama Penggunaan Mesin (Faktor) Lama penggunaan Mesin Produksi (jam) Kuantitas Hasil Produksi (ton)
1 2 10
1 4 20
2 6 50
2 6 55
2 8 60
2 8 65
2 8 70
3 9 75
3 9 80
3 10 85

Ä  Hasil Uji Korelasi Pearson

Correlations: LAMA, PRODUKSI

Pearson correlation of LAMA and PRODUKSI = 0.981

P-Value = 0.000

Hasil data olahan korelasi Pearson dari Lama dan Produksi = 0.981dan P-Value = 0.000. Artinya adalah nilai korelasi antara data lama penggunaan mesin produksi dan kuantitas hasil produksi pada keunggulan mesin pembuat pellet pakan ternak yaitu sebesar 0,981 dan nilai P-value nya sebesar 0,000. Nilai P-value yang diperoleh dari data tersebut <0,05 berarti data tersebut berkorelasi nyata.

Ä  Langkah-Langkah dalam Uji Regresi

Langkah pertama yang dilakukan setelah kita masuk Worksheet minitab adalah menginput data, setelah data diinput, kemudian buka Stat>Regression>Regression. Di responses, pasok C3. Di predictors, pasok C2, klik OK. Simpan hasil olahan di minitab. File>save session window as: nama file. Kemudian buka file tersebut di program Microsoft Word. Klik File>open. Cari file di tempat mana data tersebut disimpan (dengan tanda khusus minitab yang menunjukan hasil olahan data), file conversion-Regresi-nama file. Klik OK. Lalu File>save, klik no. sorot Word Document. Klik save. File Regresi-nama file tersebut session (hasil olahan) sudah dalam file Word Document. File tersebut dapat diedit, kemudian simpulan dari hasil olahan tersebut.

Ä  Hasil Uji Regresi

Dari data yang telah dimasukkan pada awal uji regresi, maka diperoleh hasil olahan data untuk uji regresi antara lama dan produksi pellet pakan ternak yaitu

Regression Analysis: PRODUKSI versus LAMA

The regression equation is

PRODUKSI = – 11.1 + 9.73 LAMA

Predictor     Coef  SE Coef      T      P

Constant   -11.125    5.010  -2.22  0.057

LAMA        9.7321   0.6781  14.35  0.000

S = 5.07423   R-Sq = 96.3%   R-Sq(adj) = 95.8%

Analysis of Variance

Source          DF      SS      MS       F      P

Regression       1  5304.0  5304.0  206.00  0.000

Residual Error   8   206.0    25.7

Total            9  5510.0

Dari data display diatas diperoleh persamaan regresi antara lama dan produksi yaitu

PRODUKSI = – 11.1 + 9.73 LAMA

Hasil uji regresi menunjukan bahwa setiap kenaikan satu satuan LAMA akan meningkatkan sebanyak satu satuan produksi sebanyak PRODUKSI = -11.1 + 9.73 LAMA. Nilai 9.73 adalah nilai kemiringan dari persamaan regresi tersebut.

Selain rumus regresi, dari uji regresi tersebut juga diperoleh R-Sq sebesar 96.3%. Nilai R-Sq 96.3% menyatakan bahwa proporsi keragaman variable X terhadap Y bisa diterangkan secara linier sebesar 96.3% dan sisanya diterangkan oleh hal lainnya. Hal lain disini maksudnya adalah selain dari korelasi tersebut. Pada data display analisis keragaman terdapat DF, SS, MS, F, dan P.

DF       : derajat bebas

SS        : jumlah kuadrat (sum square)

MS      : mean square

F          : nilai f

P          : nilai p-value

Pengolahan data uji korelasi dan regresi dapat dilakukan juga mengunakan software statistik. Langkah-langkah dalam pengujian korelasi dan regresi dengan menggunakan statistik adalah sebagai berikut:

Statistik Parametrik

Ä  Langkah-Langkah Pengoperasian Uji Korelasi Pearson

Buka statistics>Linear Models>Correlations (Pearson). Di kotak dialog Correlation (Pearson): klik LAMA, klik tanda panah arah kanan, klik PRODUKSI, klik tanda panah arah kanan, klik OK. Beri tanda checked (√) pada Fit Constant dan Compute P-Values. Klik OK. Pada lembar olahan data (session) akan tampil hasil olahan. Nilai koefisien berikut dengan nilai P-nya. Bila P<0,05: mengindikasikan bahwa ditemukan hubungan keeratan (korelasi) antara sifat lama dan produksi mesin. Bila sebaliknya, maka tidak ditemukan hubungan keeratan antara sifat lama dan produksi mesin. Bila ditemukan hubungan antara kedua sifat beda tersebut, pengolahan data dapat diteruskan ke persamaan linier. Setelah itu, simpan hasil olahan di Save>nama file. Kemudian hasilnya di Copy ke Microsoft Word untuk dibahas lebih lanjut.

Ä  Hasil Olahan Data Korelasi Pearson

Correlations (Pearson)

LAMA

PRODUKSI   0.9811

P-VALUE  0.0000

Cases Included 10    Missing Cases 0

Nilai P-Value dari pengolahan data diatas dapat diketahui sebesar 0.0000. Nilai tersebut <0.05 sehingga dapat dikatakan bahwa data PRODUKSI dan LAMA berkorelasi nyata. Hal ini sama dengan nilai yang diperoleh dengan menggunakan minitab.

Ä  Langkah-Langkah Pengoperasian Uji Regresi

Buka Statistics>Linear Models>Linier Regression. Di kotak dialog Linear Regression; pada Variables, sorot PRODUKSI; di Dependent Variable, klik tanda panah arah kanan, kembali ke Variables, sorot LAMA; di Independent Variable, klik tanda panah arah kanan. Beri tanda checked (√) pada Fit Constant, klik OK. Pada lembar olahan data (session) akan tampil hasil olahan. Nilai konstanta (a) dan koefisien regresi (b) diperoleh. Persaman regresi kemudian dapat dibuat. Hasil olahan data menampilkan tabel analisis regresi. Kemudian setelah selesai, simpan hasil olahan data di Save>nama file. Kemudian data di Copy ke Microsoft Word agar bisa di Edit.

Ä  Hasil Olahan Data Regresi

Unweighted Least Squares Linear Regression of PRODUKSI

Predictor

Variables   Coefficient   Std Error         T         P

Constant       -11.1250              5.01040     -2.22    0.0571

LAMA            9.73214                0.67807     14.35    0.0000

R-Squared          0.9626      Resid. Mean Square (MSE)    25.7478

Adjusted R-Squared  0.9579  Standard Deviation          5.07423

Source        DF        SS           MS                F                P

Regression     1   5304.02   5304.02   206.00   0.0000

Residual       8    205.98     25.75

Total          9   5510.00

Cases Included 10    Missing Cases 0

Uji regresi dengan menggunakan statistics ini diperoleh persamaan yaitu

Produksi = -11.1250 + 9.73214 Lama

KORELASI SPEARMAN DAN PERSAMAAN REGRESI LINEAR

Tabel 1. Skor Ketangkasan Jari dan Kemampuan Mekanikal Pekerja

Pekerja Ketangkasan Jari Kemampuan Mekanikal Rank Rank di di2
A 1 2 1 3 -2 4
B 2 1 2 1 1 1
C 3 8 4 8 -4 16
D 3 2 4 3 1 1
E 3 2 4 3 1 1
F 6 6 6 6,5 -0,5 0,25
G 7 6 7 6,5 0,5 0,25
H 8 5 8 5 3 9

Data yang digunakan dalam mencari nilai koefisien korelasi spearman diatas adalah nilai skor, sehingga diolah secara statistics non-parametrik. Rumus yang digunakan yaitu

rs = 1 – 6∑ di2

n(n2-1)

Keterangan :

di : selisih setiap pasang rank yang berkaitan dengan pasangan data (Xi, Yi)

n  : banyaknya pasangan rank

Ä  Langkah-Langkah Mencari Koefisien Korelasi Spearman (rs)

Langkah pertama yang dilakukan untuk mencari koefisien korelasi spearman adalah buka MINITAB. Masukan  data pekerja di C1 (PEKERJA). Masukan  data ketangkasan diri di C2 (KETANGKASAN DIRI). Kemudian di C3 (KEMAMPUAN MEKANIKAL) masukan data kemampuan mekanikal. selanjutnya klik Data>Rank>di Rank Data in : sorot C2, klik select; di Store ranks in: ketik C4, klik OK. klik Data>Rank>di Rank Data in : sorot C3, klik select; di Store ranks in: ketik C5, klik OK. Perhatikan Worksheet, terdapat data rank pada C4 dan C5. Kemudian klik Calc>Calculator. Di  Store result in variable : ketik C6, di Expression : sorot C4, klik select; klik tanda -; sorot C5, select, klik OK. Klik Calc>Calculator. Di Store result in variable : ketik C7, di Expression : sorot C6, klik select; klik tanda *; sorot C6, select, klik OK. Calc>Column Statistics, di statistics : klik sum. Di Input variable : sorot C7, klik select. Di store result in: ketik K1, klik OK. Perhatikan Session, pada session terdapat nilai K1. Kemudian perhatikan Worksheet, maka terdapat C6 dan C7. Calc>Calculator. Di Store result in variable : ketik K2, di Expression: klik tanda 6, klik tanda *; sorot K1, select, klik OK. Calc>Calculator. Di Store result in variable : ketik K3, di Expression : klik tanda 8; klik tanda *; klik tanda 8, klik OK. Calc>Calculator. Di Store result in variable : ketik K4, di Expression: sorot K3, klik select; klik tanda -: klik tanda 1, klik OK. Calc>Calculator. Di Store result in variable  ketik K5, di Expression : sorot K4, klik select; klik tanda *; klik tanda 8, klik OK. Calc>Calculator. Di Store result in variable  ketik K6, di Expression : sorot K2, klik select; klik tanda / ; sorot K5, klik OK. Calc>Calculator. Di Store result in variable : ketik K7, di Expression : klik tanda 1; klik tanda -; sorot K6, klik OK. Data>Display data, sorot K2-K7, klik select, klik OK. Perhatikan Session, maka terdapat nilai K1-K7. Nilai Korelasi Spearman (rs) adalah K7. Kemudian dilanjutkan dengan uji t. Calc>Calculator. Di Store result in variable : ketik K8, di Expression: klik tanda 8; klik tanda -; klik tanda 2, klik OK. Calc>Calculator. Di Store result in variable : ketik K9, di Function : sorot Square root; klik select; di Expression didapat (SQRT(number)). Maka ganti number dengan K8, klik OK. Calc>Calculator. Di Store result in variable : K10, di Expression : sorot K7 klik tanda *; sorot K9, klik OK. Calc>Calculator. Di Store result in variable : ketik K11, di Expression : sorot K7, klik select; klik tanda *; sorot K7, klik select, klik OK. Calc>Calculator. Di Store result in variable : ketik K12, di Expression : klik tanda 1; klik tanda -; sorot K11, klik select, klik OK. Calc>Calculator. Di Store result in variable : ketik K13, di Function : sorot Square root; klik select; di Expression didapat (SQRT(number)). Maka ganti number dengan K12 klik OK. Calc>Calculator. Di Store result in variable : ketik K14, di Expression : sorot K10 klik select; klik tanda /; sorot K13, klik OK. Data>Display data, sorot K8-K14, klik select, klik OK. Perhatikan Session, maka akan terdapat nilai K8-K14. Maka nilai t hitung adalah K14. Buka tabel t (0.05/2)n = 8 dibuku teks statistic, tentukan daerah kritisnya. Calc>Calculator. Di Store result in variable: ketik K15, di Expression, klik tanda 8;+;1; klik OK. Calc>Calculator. Di Stores result in variable : ketik K16, di Expression : klik tanda 1; – ; sorot K7, klik select, klik OK. Calc>Calculator. Di Store resut in variable : ketik K17, di Expression : sorot K16, klik select, klik tanda / ; 2, klik OK.

Ä  Hasil Data Display Korelasi Spearman dan Regresi

Sum of C7 = 32.5

Data Display

K1    32.5000

K2    195.000

K3    64.0000

K4    63.0000

Data Display

K5    504.000

K6    0.386905

K7    0.613095

Data Display

K8     6.00000

K9     2.44949

K10    1.50177

Data Display

K11    0.375886

K12    0.624114

K13    0.790009

K14    1.90095

Data Display

K15    9.00000

K16    0.386905

K17    0.193452

K18    1.74107

Y=1.74107+0.613095X

Nilai korelasi spearman sama dengan nilai K7, dari data display dapat diketahui nilai K7 yaitu 0.613095. Sedangkan nilai t hitung dapat diperoleh dari nilai K14 yaitu 1.90095. Selain itu, diperoleh persamaan regresi yaitu Y=1.74107+0.613095X. hasil persamaan regresi menunjukan bahwa setiap kenaikan satu satuan X akan meningkatkan sebanyak satu satuan Y dengan rumus Y=1.74107+0.613095X.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!